Tuesday, 1 January 2013

Hukum Seputar Mempelajari Bahasa Inggris

Bismillah…
Demikian adalah fatwa Syaikh Al Utsaimin rahimahullah seputar hukum mempelajari bahasa inggris..


Hukum Mempelajari Bahasa Inggris Saat ini
Syaikh rahimahullah ditanya tentang hukum mempelajari bahasa inggris pada waktu sekarang
Beliau menjawab: Mempelajarinya hanyalah sebagai wasilah (perantara/alat), maka apabila engkau memerlukannya sebagai alat untuk mengajak manusia kepada Allah terkadang (hukumnya) menjadi wajib. Tetapi jika engkau tidak memerlukannya maka janganlah menyibukkan waktumu untuk itu, tetapi sibukkanlah dengan pelajaran yang lebih penting dan lebih bermanfaat. Kebutuhan manusia itu berbeda beda dalam mempelajari bahasa Inggris. Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam telah memerintahkan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu untuk mempelajari bahasa Yahudi.
Maka mempelajari bahasa inggris hanyalah sebagai salah satu alat. Jika engkau memerlukannya maka boleh mempelajarinya, jika tidak perlu, maka janganlah engkau sia-siakan waktumu untuk itu.

Monday, 31 December 2012

Salafi Meruntuhkan Khilafah Islam???

Ada-ada saja… Sejumlah orang yang telah putus asa dalam perdebatan secara ilmiah dalam soal agama, berusaha mendelegitimasi manhaj salaf dengan melemparkan fitnah, bahwa kemunculannya yang bergandengan tangan dengan kemunculan dinasti Ibnu Saud, adalah tidak sah karena dituding turut menyumbang pada proses keruntuhan Khilafah Islam Turki Utsmaniyah, berkolaborasi dengan Inggris dan “menjual” Palestina.
Insya Allah dengan mudah kami akan menyingkap kedustaan ini. Akan tetapi, terlebih dahulu kami ingin mengajak para pembaca mengenali faktor-faktor yang menyumbang pada keruntuhan Khilafah Utsmaniyah tersebut, yang sekaligus merupakan gambaran dunia Islam pada periode tersebut. Kemudian kami akan tampilkan keprihatinan dari seorang mualaf terkemuka akan aqidah umat Islam pada masa kontemporer ini.
Faktor-faktor yang menyebabkan keruntuhan Khilafah Utsmaniyah [“Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah” (terjemahan) oleh Dr. Ali Muhammad Ash-Shalibi, Pustaka Al-Kautsar, 2002]:

Tuesday, 18 December 2012

Siapakah Ahlussunnah Wal Jama’ah?


ahlussunnahDewasa ini marak pengakuan dari berbagai pihak yang mengklaim dirinya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sehingga menyebabkan adanya kerancuan dan kebingungan dalam persepsi banyak orang tentang Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah itu ?
Jawab :
Mengetahui siapa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah perkara yang sangat penting dan salah satu bekal yang harus ada pada setiap muslim yang menghendaki kebenaran sehingga dalam perjalanannya di muka bumi ia berada di atas pijakan yang benar dan jalan yang lurus dalam menyembah Allah Subhaanahu wa Ta’aala sesuai dengan tuntunan syariat yang hakiki yang dibawa oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam empat belas abad yang lalu.

Saturday, 15 December 2012

Bagi Yang Ingin Tahu Siapa Wahabi Sebenarnya

Bagi  mereka yang ingin mengetahui siapakah wahabi yang sebenarnya, maka kini telah hadir sebuah buku hasil terjemahan dari karya seorang ulama. Karya seorang Doktor dari Al-Azhar Mesir, beliau adalah Doktor Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir. Buku tersebut diterbitkan untuk ke sekian kalinya oleh Universitas Islamiyah Madinah. Beberapa kali dicetak di Maroko dan Afrika Utara.
Buku beliau telah diterbitkan dalam edisi Indonesia dengan judul “Sebenarnya Siapakah Wahabi Itu?”

Wednesday, 21 November 2012

Hakekat Ahmadinejad: Mengungkap tabir hitam pemimpin syi'ah Ahmadinejad

 
 
Arrahmah.comSiapa yang tak kenal sosok Ahmadinejad, seorang presiden Iran yang berani terhadap hegemoni Amerika Serikat dan figur yang sangat bersahaja dalam kehidupannya. Banyak dari kalangan kaum muslimin mengelu-elukan seorang Ahmadinejad yang dianggap representasi pemimpin sejati.
Namun, masyarakat muslim sangat jarang mengetahui sosok sejati Ahmadinejad, baik sebagai pribadi ataupun sebagai presiden Iran dengan posisi pengambil kebijakan.
Sebelum membahas lebih jauh terkait sikap Ahmadinejad terhadap Israel, ada baiknya kita mengulas asal-usul pria tersebut.

Tuesday, 20 November 2012

SIRAH NABAWIYAH

RESENSI BUKU

JUDUL BUKU : “SIRAH NABAWIYAH”
JUDUL ASLI : As-Sirah An-Nabawiyah Fii Dhaui Al-Mashadir Al-Asliyyah
PENULIS : Prof. DR. Mahdi Rizqullah Ahmad
TEBAL BUKU : 1108 hlm ; 17 x 24 cm
PENERBIT : PERISAI QURAN

Mencintai dan mengikuti Rasulullah shalallahu alaihi wassalam mengharuskan seseorang untuk mengetahui berbagai keistimewaan juga situasi yang melingkupinya, bukti-bukti kenabian, serta sifat karakter beliau pada banyak kesempaatan. Karena itulah ciri-ciri orang yang mencintai dan mengikuti Nabi nya – Muhammad Shalallahu alaihi Wassalam.

Saturday, 3 November 2012

Ulil Amri

Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan ulil amri diantara kalian.” (QS. an-Nisaa’: 59)
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan: Yang dimaksud dengan ulil amri adalah

Mahasiswa Harus Berilmu Sebelum Bertindak

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kewajiban belajar agama bukan hanya bagi mahasiswa yang duduk di Jurusan Syari’ah atau yang belajar di Universitas Islamiyah. Mahasiswa teknik dan kedokteran serta mahasiswa mana pun punya kewajiban yang sama. Ada kadar wajib dari ilmu agama yang mesti setiap mahasiswa pelajari. Karena tidak adanya ilmu agama itulah yang menyebabkan mahasiswa banyak yang salah jalan dan salah langkah. Akhirnya ada yang asal berkoar, namun bagai tong kosong nyaring bunyinya dan ujung-ujungnya tidak mendatangkan maslahat malah mengundang petaka.

Belajar Akhlak dan Adab Kepada Rasulullah

[1] Amalan-Amalan Paling Utama
Dari Abu ‘Amr asy-Syaibani, dia berkata: Pemilik rumah ini -beliau mengisyaratkan dengan tangan menunjuk rumah Abdullah (Ibnu Mas’ud)- menuturkan kepadaku. Beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan apakah yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla?”. Beliau menjawab, “Sholat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?”. Beliau menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?”. Beliau menjawab, “Kemudian berjihad di jalan Allah.” Beliau -Ibnu Mas’ud- berkata, “Beliau telah menuturkan kepadaku itu semua. Seandainya aku meminta tambahan lagi niscaya beliau juga akan menambahkannya kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 33)

Prinsip Akidah Seorang Muslim

Para ulama sering menjelaskan tiga prinsip yang harus jadi pegangan setiap muslim. Jika prinsip ini dipegang, barulah ia disebut muslim sejati.
Para ulama mengatakan, Islam adalah:
الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهله
Berserah diri pada Allah dengan mentauhidkan-Nya, patuh kepada-Nya dengan melakukan ketaatan dan berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik.

Thursday, 25 October 2012

Berbahagia di Hari Raya

Nilai hari raya dalam pandangan Islam bukanlah semata-mata rutinitas tahunan biasa. Hari raya menjadi sangat berarti karena ia sejatinya berkaitan dengan ibadah-ibadah penting di dalam Islam. Hari raya idul fitri dirayakan setelah kaum muslimin menunaikan ibadah shaum selama satu bulan penuh, rukun Islam keempat. Dan hari raya idul adha, dirayakan kaum muslimin bersamaan dengan ibadah haji yang tengah ditunaikan oleh sebagian kaum muslimin yang telah mampu melaksanakannya, rukun Islam yang kelima.

Keutamaan Berpuasa pada 9 Hari Awal Dzulhijjah

Memang tidak ada hadits khusus yang menunjukkan anjuran terhadap hal ini. Akan tetapi anjuran berpuasa pada hari-hari ini sudah tercakup dalam keumuman hadits karena puasa termasuk amal salih.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam al-Liqa’ asy-Syahri (no. 26):
Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

Adab Membaca Al-Quran

Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta’ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an:

100 Kiat Bagi Orang Tua Agar Anak -Insya Allah- Jadi Shalih dan Shalihah

RESENSI BUKU ISLAMI
JUDUL BUKU : “100 Kiat Bagi Orang Tua” Agar Anak -Insya Allah- Jadi Shalih dan Shalihah
PENULIS : Ustadz. Abu Muhammad Najmi bin Umar Bakkar
TEBAL BUKU : 124 hlm ; 14,5 x 20,5 cm
PENERBIT : PERISAI QURAN

Anak merupakan amanah yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada orang tua dan tanggung jawab bagi mereka, mereka tidak hanya berkewajiban memenuhi kebutuhan pokok saja, tetapi ada hal lain yang jauh lebih penting dari hanya sekedar sandang, pangan dan papan. Allah Subhanahu Wata’ala akan mempertanyakan mereka kelak di akhirat apa yang sudah di perbuat untuk anak-anaknya.

Ayo Belajar SHALAT

RESENSI BUKU ISLAM
JUDUL BUKU : Ayo Belajar SHALAT
PENULIS : Nizar Sa’ad Jabal Lc.M,Pd
TEBAL BUKU : 56 hlm; 15,5 x 21 cm
PENERBIT : PERISAI QURAN
Shalat adalah barometer bagi keseluruhan amal kita. Melihat urgensi shalat seperti ini, maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita untuk mengajarkan shalat pada anak-anak sedini mungkin, bahkan saat anak berusia 10 tahun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengijinkan kita untuk memukulnya tentunya dengan pukulan yang mendidik.

Inilah Mereka yang Tidak Menghormati Nabi

Di saat Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilecehkan, dihina direndahkan oleh orang kafir, moment seperti ini dapat dijadikan oleh setiap muslim sebagai sebuah barometer, “Apakah ia seorang muslim yang membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau malah ia seorang yang menghina atau melecehkannya?!?”.
Saudaraku muslim…
Di bawah ini disebutkan tanda-tanda seorang yang menghina, mencela dan tidak menghormati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Saatnya Meninggalkan Musik

Siapa saja yang hidup di akhir zaman, tidak lepas dari lantunan suara musik atau nyanyian. Bahkan mungkin di antara kita –dulunya- adalah orang-orang yang sangat gandrung terhadap lantunan suara seperti itu. Bahkan mendengar lantunan tersebut juga sudah menjadi sarapan tiap harinya. Itulah yang juga terjadi pada sosok si fulan. Hidupnya dulu tidaklah bisa lepas dari gitar dan musik. Namun, sekarang hidupnya jauh berbeda. Setelah Allah mengenalkannya dengan Al haq (penerang dari Al Qur’an dan As Sunnah), dia pun perlahan-lahan menjauhi berbagai nyanyian. Alhamdulillah, dia pun mendapatkan ganti yang lebih baik yaitu dengan kalamullah (Al Qur’an) yang semakin membuat dirinya  mencintai dan merindukan perjumpaan dengan Rabbnya.

Alat Musik Dalam Pandangan Ulama Madzhab Syafi’i

Sebagian orang mengira alat musik itu haram karena klaim sebagian kalangan saja. Padahal sejak masa silam, ulama madzhab telah menyatakan haramnya. Musik yang dihasilkan haram didengar bahkan harus dijauhi. Alat musiknya pun haram dimanfaatkan. Jual beli dari alat musik itu pun tidak halal. Kali ini kami akan buktikan dari madzhab Syafi’i secara khusus karena hal ini jarang disinggung oleh para Kyai dan Ulama di negeri kita. Padahal sudah ada di kitab-kitab pegangan mereka.
Terlebih dahulu kita lihat bahwa nyanyian yang dihasilkan dari alat musik itu haram. Al Bakriy Ad Dimyathi berkata dalam I’anatuth Tholibin (2: 280),

بخلاف الصوت الحاصل من آلات اللهو والطرب المحرمة – كالوتر – فهو حرام يجب كف النفس من سماعه.
“Berbeda halnya dengan suara yang dihasilkan dari alat musik dan alat pukul yang haram seperti ‘watr’, nyanyian seperti itu haram. Wajib menahan diri untuk tidak mendengarnya.”
Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj Syarh Al Minhaj karya Ibnu Hajar Al Haitami disebutkan ,

( طُنْبُورٍ وَنَحْوِهِ ) مِنْ آلَاتِ اللَّهْوِ وَكُلِّ آلَةِ مَعْصِيَةٍ كَصَلِيبٍ وَكِتَابٍ لَا يَحِلُّ الِانْتِفَاعُ بِهِ
“Thunbur dan alat musik semacamnya, begitu pula setiap alat maksiat seperti salib dan kitab (maksiat), tidak boleh diambil manfaatnya.” Jika dikatakan demikian, berarti alat musik tidak boleh dijualbelikan. Jual belinya berarti jual beli yang tidak halal.
Dalam kitab karya Al Khotib Asy Syarbini yaitu Mughni Al Muhtaj disebutkan,

( وَآلَاتُ الْمَلَاهِي ) كَالطُّنْبُورِ ( لَا يَجِبُ فِي إبْطَالِهَا شَيْءٌ ) ؛ لِأَنَّ مَنْفَعَتَهَا مُحَرَّمَةٌ لَا تُقَابَلُ بِشَيْءٍ
“Berbagai alat musik seperti at thunbuur tidak wajib ada ganti rugi ketika barang tersebut dirusak. Karena barang yang diharamkan pemanfaatannya tidak ada kompensasi sama sekali ketika rusak.” Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa alat musik adalah alat yang haram. Konsekuensinya tentu haram diperjualbelikan.
Dalam kitab Kifayatul Akhyar penjelasan dari Matan Al Ghoyah wat Taqrib (Matan Abi Syuja’) halaman 330 karya Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad Al Husaini Al Hushniy Ad Dimasyqi Asy Syafi’i ketika menjelaskan perkataan Abu Syuja’ bahwa di antara jual beli yang tidak sah (terlarang) adalah jual beli barang yang tidak ada manfaatnya. Syaikh Taqiyuddin memaparkan bahwa jika seseorang mengambil harta dari jual beli seperti ini, maka itu sama saja mengambil harta dengan jalan yang batil. Dalam perkataan selanjutnya, dijelaskan sebagai berikut:

وأما آلات اللهو المشغلة عن ذكر الله، فإن كانت بعد كسرها لا تعد مالاً كالمتخذة من الخشب ونحوه فبيعها باطل لأن منفعتها معدومة شرعاً، ولا يفعل ذلك إلا أهل المعاصي
“Adapun alat musik yang biasa melalaikan dari dzikirullah jika telah dihancurkan, maka tidak dianggap lagi harta berharga seperti yang telah hancur tadi berupa kayu dan selainnya, maka jual belinya tetap batil (tidak sah) karena saat itu tidak ada manfaatnya secara syar’i. Tidaklah yang melakukan demikian kecuali ahlu maksiat.”
Ini perkataan ulama Syafi’iyah yang bukan kami buat-buat. Namun mereka menyatakan sendiri dalam kitab-kitab mereka. Intinya, musik itu haram. Alat musik juga adalah alat yang haram. Pemanfaatannya termasuk diperjualbelikan adalah haram. Artinya, upah yang dihasilkan adalah upah yang haram. Penjelasan ini pun dapat menjawab bagaimana hukum shalawatan dan nasyid dengan menggunakan alat musik. Silakan direnungkan!
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Artikel menarik sebagian bahan kajian lebih jauh tentang musik: “Saatnya Meninggalkan Musik”.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

Sebagian orang mengira alat musik itu haram karena klaim sebagian kalangan saja. Padahal sejak masa silam, ulama madzhab telah menyatakan haramnya. Musik yang dihasilkan haram didengar bahkan harus dijauhi. Alat musiknya pun haram dimanfaatkan. Jual beli dari alat musik itu pun tidak halal. Kali ini kami akan buktikan dari madzhab Syafi’i secara khusus karena hal ini jarang disinggung oleh para Kyai dan Ulama di negeri kita. Padahal sudah ada di kitab-kitab pegangan mereka.